anak susah makan
anak susah makan

Mengatasi Anak yang Sulit Makan

Posted on

Cara Mengatasi Anak yang Sulit Makan

anak susah makan
anak susah makan

Semua orang tua mengharapkan anaknya tumbuh sehat dan lincah. Namun bagaimana bila sebaliknya yang terjadi, si kecil begitu kurus.

Usia 0 – 5 tahun merupakan masa yang sangat penting. Pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik, perkembangan mental, sosial, maupun emosi anak yang merupakan fondasi bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Tidak mengherankan jika si kecil membutuhkan zat-zat gizi dalam jumlah yang relatif besar, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.

Apabila pemenuhan zat gizi sesuai dengan kebutuhan, anak tumbuh pesat. Namun bagaimana apabila sebaliknya yang terjadi? Ia tidak sesehat dan selincah anak lain sebayanya. Berat badan anak tidak naik secara normal. Sehingga sering terdengar komentar “koq kurus, ya?” Waspadalah. Anak mungkin mengalami kekurangan gizi. Ini karena jumlah gizi yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan badannya. Bertindaklah segera. Apabila kondisi ini dibiarkan, kesehatan anak akan makin menurun.
Berkonsultasilah dengan dokter dan ahli gizi. Mungkinkah anak mende-rita gangguan pencernaan? Perlukah susunan makanan untuk anak diper-baiki?

 

kenaikan berat badan anak

Kenaikan berat badan yang kurang normal dapat disebabkan oleh ber-bagai hal, antara lain makanan yang dikonsumsi anak kurang sesuai dengan perkembangan anak. Perhatikan jumlah, jenis, mutu, sifat makanan (cair atau kental), dan berapa kali pemberian makanan dalam seharinya.

Kemungkinan lain adalah anak menderita gangguan pencernaan, atau memang sulit makan. Apabila si kecil mengalami masalah penyerapan zat gizi, maka si kecil perlu diberi makanan khusus. Artinya melakukan peninjauan ulang makanan yang dikonsumsi anak. Selain tetap diberi ASI, berikan juga makanan pendamping ASI berupa bubur khusus yang zat-zat gizinya mudah diserap.

Tips Mengatasi Anak yang Sulit Makan

Anak yang sulit makan biasanya mempunyai kecenderungan hanya memilih makanan yang itu-itu saja. Fenomena ini biasa disebut
picky eater (pilih-pilih makanan). Berbagai upaya dilakukan sang anak untuk menunjukkan ketidaksenangannya, misalnya dengan cara mengemut-emut dan mempermainkan makanan, bahkan memuntahkannya.
Perilaku demikian tentunya mem-bingungkan orang tua ketika harus menyediakan variasi makanan untuk bisa memenuhi kebutuhan gizi anak.

Bila hal ini berlangsung terus mene-rus dan dibiarkan saja, maka si anak akan mengalami kekurangan gizi akut yang berakibat negatif bagi per-tumbuhan anak, termasuk di dalam-nya pertumbuhan dan perkembangan otak yang sangat menentukan kecer-dasan anak.

Masalah pilih-pilih makanan ini dapat muncul secara psikologis, dan disebabkan oleh berbagai hal :

Anak meniru perilaku makan anggota keluarga

1. Anak meniru perilaku makan anggota keluarga. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang melakukan diet, cen-derung menirukan perilaku tersebut. Begitu pula misalnya, bila kedua orang tua anak memilih hidup vegetarian, perilaku ini akan ditiru anak.
Bila kebetulan pola makan yang dijalani orang tua “kurang sehat”, pemenuhan gizi anak pun bisa terganggu.

Sikap orang tua

2. Sikap orang tua yang terlalu memaksakan kehendak terhadap anak tentang apa yang harus dimakan dan porsi makanannya. Contohnya perilaku orang tua yang mengharuskan anak untuk selalu menghabiskan makanannya. Maksudnya mungkin baik, tapi secara psikologis hal ini bisa mengakibatkan anak tertekan, karena anak balita juga ingin diakui egonya. Akibatnya, gizi anak tidak tercukupi, dan pertumbuhan anak menjadi terhambat.

Perlu diingat: masalah makan bukan semata-mata persoalan gizi tapi juga unsur psikologis!

orang tua harus care

.3. Orang tua terlalu mudah membelikan jajanan padat kalori seperti permen, minuman ringan, coklat dan sebagainya, untuk mene-nangkan anak yang sedang rewel. Akibatnya, anak yang sudah mengkonsumsi makanan padat kalori akan merasa kenyang se-hingga tidak mau makan lagi.

Untuk mengatasi anak yang sulit makan ada beberapa langkah yang bisa dijalankan:

Ciptakan suasana menyenangkan pada waktu makan.
Jangan sampai muncul pemaksaan yang menimbulkan kesan bahwa saat makan merupakan saat yang menyebalkan atau menjeng-kelkan, bahkan hukuman.

Biasakan pula untuk mengadakan acara makan bersama.
Anak balita senang melihat orang lain makan, sehingga ia te-rangsang untuk makan lebih banyak.

Biasakan anak untuk makan sendiri alias mandiri.
Anak balita yang biasa disuapi atau makan bersama pembantu boleh jadi akan hilang atau kurang nafsu makannya ketika harus disuapi atau makan bersama ibunya. Kembangkan suasana sosial yang seimbang dalam rumah tangga sehingga si anak merasa dekat dengan semua anggota keluarga sehingga mau makan dengan siapa saja.

Jangan biasakan menuruti semua keinginan anak seperti mem-berikan permen, minuman/makanan ringan, coklat dan lain sebagainya.
Kembangkan sikap tegas, terbuka dan logis (bisa diterima akal sehat anak) ketika menolak permintaannya. Misalnya, dengan mengatakan bahwa makan coklat bisa merusak gigi dan sebagai penggantinya Anda bisa menawarkan puding buah susu.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

One thought on “Mengatasi Anak yang Sulit Makan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *